Langsung ke konten utama

Manusia dan Penderitaan

Kehidupan tidaklah selamanya menyenangkan. Kehidupan tidaklah hanya berisi kebahagiaan dan kesenangan semata. Di dalam kehidupan terdapat kesusahan juga penderitaan.

Yang ingin penulis bahas di sini adalah bagaimana manusia menyikapi atau menanggapi penderitaan itu.


Sebahagian dari kita menanggapi suatu penderitaan adalah dengan menyalahkan alam jika karena bencana alam, atau bahkan sampai pada tahap menyalahkan Tuhan. Kalau saja diberikan kenikmatan dan rezeki tiadalah kita mengingat-Nya. Hanya dalam keadaan sedang susah, terpojok dan menderita saja kita baru mengingat-Nya dan bahkan seperti tadi, menyalahkan-Nya.

Sebenarnya, kalau kita tinjau lebih jauh, banyak sekali perbuatan-perbuatan yang memberikan timbal balik kepada kita yang berupa penderitaan. Seperti contoh umum adalah penebangan pohon secara liar yang dapat menyebabkan erosi dan banjir karena penyerapan air ke dalam tanah berkurang. Dan masih banyak lagi. Itu semua adalah karena perbuatan kita. Bukannya kita mensyukuri apa yang telah diberikan dengan menjaga dan melestarikan hutan, tetapi malah kita merusaknya.

Tidak semua kesalahan dapat dilimpahkan kepada Tuhan. Lagipula, Tuhan tidak pernah memberikan sebuah musibah kecuali jika hamba-hamba-Nya melanggar apa yang telah menjadi ketentuan-Nya. Itu pasti dan absolut. 

Yang seharusnya kita lakukan adalah introspeksi diri dan melihat kepada prilaku kita masing-masing. Sudahkah kita bersyukur atas nikmat yang telah diberikan-Nya? Sudahkan kita menunaikan apa yang Dia inginkan? Kalau belum, segera tunaikan sebelum nyawa kita dicabut. Jangan pernah mengeluh atas apa yang telah Tuhan timpakan kepada kita. Akan tetapi, jadikanlah itu sebagai pelajaran untuk kita agar dapat lebih mensyukuri apa yang telah diberikan-Nya. Karena tiadalah sebaik-baiknya guru kalau bukan pengalaman kita dalam menghadapi sesuatu, entah itu berupa kebahagiaan atau berupa musibah atau penderitaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemampuan Personal 1

Kemampuan personal merupakan kemampuan yang datangnya dari diri sendiri, dengan pengetahuan mampu menunjukkan sikap, tingkah laku dan tindakan yang menggambarkan kepribadian Indonesia, memahami nilai-nilai keagamaan, memiliki wawasan yang luas dan mempunyai kepekaan terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia. Kemampuan personal juga merupakan salah satu dari kemampuan yang harus dimiliki oleh seseorang disamping kemampuan akademik dan kemampuan profesional. Kemampuan akademik adalah kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi secara ilmiah, baik secara tersirat maupun tersurat, mendalami dan menguasai peralatan analisis, berfikir secara logis, kritis, penuh dengan perhitungan yang matang, mampu merumuskan dan menuntaskan masalah. Sedangkan kemampuan profesional adalah kemampuan dalam suatu bidang profesi yang ahli di bidangnya. Sebagai contoh saja, jika salah satu dari tiga keterampilan atau kemampuan tersebut tidak dimiliki dan dikuasai oleh seorang bendah...

Manusia dan Harapan

Tiap manusia memiliki harapan. Kalau tidak memiliki harapan, manusia bagaikan seonggok daging berbentuk indah, terstruktur yang hidup. Harapan akan menjadi sebuah kenyataan jika kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh, berdoa dan memohon kepada Yang Maha Kuasa agar kiranya harapan kita dikabulkan. Dengan segala harapan yang dimiliki seseorang, mereka akan berjuang demi mencapai harapannya. Namun, ia tidak sendiri. Ada sejumlah orang di sekitarnya yang dapat membantunya. Karena itulah akan terjadi sebuah interaksi sosial sehingga manusia disebut makhluk sosial. Manusia dengan segala harapannya berkeinginan agar semua harapannya dapat terwujudkan. Akan tetapi, apakah akan didapatkan dengan mudah tanpa usaha sama sekali? Semua akan bisa dan dapat terealisasikan sesuai dengan apa yang kita harapkan jika saja kita yakin, percaya, berusaha dan tawakkal kepada-Nya. Itu kuncinya. Tanpa kunci tersebut, belum tentu harapan kita dapat terealisasikan. Allahu A’lam..

Di Balik Renunganku (part 2)

Dunia ini membuatku heran dan bingung. Fungsi dan arti dari persahabatan, dewasa ini, sangatlah berbeda dengan fungsi dan arti yang dulu. Memang, fungsi dan arti persahabatan yang masih melekat hingga dewasa ini salah satunya adalah menghibur disaat sedih, menemani disaat sendiri dan mendukung ketika butuh dukungan. Akan tetapi, ada saja beberapa pandangan dan asumsi dari sebahagian orang yang saya rasa pandangan dan asumsi tersebut menjadi alasan mereka untuk menunda-nunda hak dari temannya.   Contoh kecilnya adalah ketika seseorang meminjam uang kepada temannya. Ia berjanji akan mengembalikannya sesuai dengan janji yang ia tentukan bersama temannya. Tetapi, batas waktu yang telah ditentukan telah berlalu, sedangkan ia belum mengembalikan uang tersebut. Dengan alasan yang cukup klasik dan saya pribadi tidak menyukai alasan tersebut, “Ah, nyantai aja. Kan ama temen ini ngutangnya. Jadi yaa nyantai aja.”  Tidakkah ia berpikir? Ia sudah berjanji untuk mengembalikan uang...