Langsung ke konten utama

Di Balik Renunganku (part 2)

Dunia ini membuatku heran dan bingung. Fungsi dan arti dari persahabatan, dewasa ini, sangatlah berbeda dengan fungsi dan arti yang dulu. Memang, fungsi dan arti persahabatan yang masih melekat hingga dewasa ini salah satunya adalah menghibur disaat sedih, menemani disaat sendiri dan mendukung ketika butuh dukungan. Akan tetapi, ada saja beberapa pandangan dan asumsi dari sebahagian orang yang saya rasa pandangan dan asumsi tersebut menjadi alasan mereka untuk menunda-nunda hak dari temannya. 

Contoh kecilnya adalah ketika seseorang meminjam uang kepada temannya. Ia berjanji akan mengembalikannya sesuai dengan janji yang ia tentukan bersama temannya. Tetapi, batas waktu yang telah ditentukan telah berlalu, sedangkan ia belum mengembalikan uang tersebut. Dengan alasan yang cukup klasik dan saya pribadi tidak menyukai alasan tersebut, “Ah, nyantai aja. Kan ama temen ini ngutangnya. Jadi yaa nyantai aja.” 

Tidakkah ia berpikir? Ia sudah berjanji untuk mengembalikan uang temannya sesuai dengan batas waktu yang ditentukan, tetapi malah belum mengembalikannya. Bahkan dengan mengatasnamakan persahabatan, ia terus menunda-nunda pengembalian uang temannya. Oke kalau temannya mengerti dan menerima. Tetapi, bagaimana jika temannya itu sedang membutuhkan uang tersebut? 

Janji adalah janji yang harus ditepati. Persahabatan adalah persahabatan yang harus dijaga. Sangatlah tidak logis, bahkan memalukan ketika sebuah tali persahabatan terputus hanya disebabkan oleh pengembalian pinjaman uang yang ditunda-tunda. Janji tidak sama dengan persahabatan. Persahabatan adalah hubungan yang terjalin antara manusia dengan manusia yang lain. Perjanjian adalah hubungan yang terjalin antara manusia dengan temannya dan juga Allah. 

Sebenarnya masih banyak contoh yang mengatasnamakan persahabatan untuk sebuah perkara yang negatif. Seperti menolong teman untuk keburukan dan sejenisnya. Dengan mudah mereka mengatakan, “Demi temen deh, gue rela bantuin lo nyolong.” atau dengan redaksi lainnya. 

Dari renunganku ini, saya mendapatkan pelajaran berharga. Diantaranya adalah persahabatan. Harta yang paling berharga adalah persahabatan. Jaga dan lindungi harta berharga tersebut agar di kemudian hari harta tersebut akan terukir indah dalam kenangan kita. Persahabatan bukanlah sebuah alasan untuk dijadikan batu loncatan untuk menghindar dari sebuah perjanjian. Janji adalah sesuatu yang harus ditepati dan akan diminta pertanggungjawabannya kelak. 

Mungkin agak aneh apa yang saya renungkan ini. Atau bahkan ada yang memandang biasa saja dengan renungan saya ini. Malah mungkin dianggap terlalu repot mengurus masalah seperti ini. Tapi, inilah buah pemikiran dan renungan saya agar tidak tersendat di otak saja. Lebih baik saya tuangkan ke dalam tulisan ini. Sungguh indah persahabatan yang terjaga dan terjalin hingga akhir hayat. Sungguh indah bila janji bisa ditepati di waktunya. Allahu A'lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Renunganku (part 1)

Aku heran juga terkejut melihat dunia ini. Begitu mudahnya kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Kalau itu dengan cara yang halal dan tidak melanggar norma-norma yang berlaku, tentu tidak akan menjadi bahan pemikiranku. Tapi, bagaimana jika cara yang digunakan untuk mendapatkannya adalah dengan cara yang haram dan melanggar norma-norma yang berlaku? Tidakkah mereka, orang-orang yang menggunakan cara yang haram dan melanggar peraturan, berpikir dan merenungi apa yang telah mereka perbuat? Bahkan mereka merelakan nyawa orang-orang yang mereka sayangi dan cintai kandas dari dunia ini demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka lebih mementingkan kepuasan diri dengan mengesampingkan orang-orang di sekitarnya. Sekali lagi, aku benar-benar terlarut dalam keheranan dan keterkejutanku. Bagaimana tidak? Apa yang telah mereka lakukan dan perbuat sangat bertentangan dengan hak asasi manusia di mana orang-orang yang telah mereka dzolimi juga memiliki hak yang sama, mendapatkan apa ya...

Manusia dan Harapan

Tiap manusia memiliki harapan. Kalau tidak memiliki harapan, manusia bagaikan seonggok daging berbentuk indah, terstruktur yang hidup. Harapan akan menjadi sebuah kenyataan jika kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh, berdoa dan memohon kepada Yang Maha Kuasa agar kiranya harapan kita dikabulkan. Dengan segala harapan yang dimiliki seseorang, mereka akan berjuang demi mencapai harapannya. Namun, ia tidak sendiri. Ada sejumlah orang di sekitarnya yang dapat membantunya. Karena itulah akan terjadi sebuah interaksi sosial sehingga manusia disebut makhluk sosial. Manusia dengan segala harapannya berkeinginan agar semua harapannya dapat terwujudkan. Akan tetapi, apakah akan didapatkan dengan mudah tanpa usaha sama sekali? Semua akan bisa dan dapat terealisasikan sesuai dengan apa yang kita harapkan jika saja kita yakin, percaya, berusaha dan tawakkal kepada-Nya. Itu kuncinya. Tanpa kunci tersebut, belum tentu harapan kita dapat terealisasikan. Allahu A’lam..

Mencari Jalan Tengah Antara Lelaki dan Perempuan

Seorang lelaki mengatakan kepada seorang perempuan, “Kamu harusnya ngertiin aku dong! Aku sudah capek begini, kamu masih aja maksa aku nemenin kamu jalan-jalan.” Padahal di sisi lain, si lelaki tidak mengerti si perempuan. Kesannya hanya ingin dimengerti saja. Dan seorang perempuan mengatakan kepada seorang lelaki, “Kamu gimana, sih? Masa aku harus datang ke tempat kamu sekarang? Aku kan lagi sakit. Kamu ngertiin aku kenapa sih?” Padahal di sisi lain, si perempuan tidak mengerti si lelaki. Kesannya adalah sama, ingin dimengerti. Dari kedua ilustrasi di atas, terjadi kurangnya rasa pengertian antara lelaki dan perempuan. Di suatu sisi, si lelaki menginginkan untuk diperhatikan oleh si perempuan. Dan begitu pula perempuan, menginginkan untuk diperhatikan oleh si lelaki. Terjadi ketidakseimbangan keinginan antara mereka yang mana memang tiap individu menginginkan untuk diperhatikan. Hal ini merupakan bentuk daripada sebuah keegoisan. Bagaimanakah seharusnya? Sebagaimana pada judul ...