Langsung ke konten utama

Makna dari Sebuah Pilihan

Hidup di dunia yang terbentang luas ini, umat manusia begitu banyak dihadapkan dengan masalah. Setelah mendapat masalah, diberikan pilihan-pilihan demi menghasilkan keputusan terbaik untuk masalahnya. Dalam kondisi apapun, pasti di sana ada pilihan. Bahkan dalam keadaan terdesak. Pencuri ketika dihadapkan dengan kondisi telah dikepung oleh masyarakat, sebagai contoh.


Pencuri tersebut mempunyai beberapa pilihan, kalau dia tidak menyerah maka masyarakat akan menghakiminya dengan cara mereka dan pastinya nyawa pencuri tersebut akan terancam. Pilihan selanjutnya adalah kalau pencuri tersebut menyerah maka masyarakat akan menghakiminya juga, akan tetapi dengan cara yang lebih baik daripada dia tidak menyerah. Meskipun pilihan yang penulis sebutkan tadi terasa pahit kedua-duanya, setidaknya pilihan yang kedua lebih aman bagi pencuri tersebut.

Sekali lagi, dalam keadaan apapun, kondisi apapun, entah dalam keadaan sedang lapang atau terdesak, di sana pasti ada pilihan. Mungkin saja pilihan itu terbaik atau terburuk. Yang paling mengerti pilihan mana yang terbaik dan terburuk adalah diri kita masing-masing. Jika kita menginginkan yang terbaik, tentu kita akan mengambil pilihan yang terbaik. Semua suka yang terbaik, kecuali bagi mereka yang memang tidak menyukai yang baik-baik.

Apapun pilihannya, itu semua tergantung kepada diri masing-masing. Karena diri kita lah yang menjalani hidup, kita yang memilih, kita yang menghadapi. Pilih yang terbaik menurut kita selama kita nyaman dan tenang jika kita mengambil pilihan tersebut.

Namun, apakah sampai di situ saja? Tidak!

Kita hidup sebagai makhluk sosial, berinteraksi dengan orang lain di sekitar kita. Walaupun kita telah mengambil pilihan yang terbaik menurut kita, kita juga harus memerhatikan pendapat mereka tentang pilihan kita. Berusahalah untuk berlapang dada menerima apapun pendapat atau pandangan mereka. Kritik dan saran mereka tetap harus kita dengarkan dan kita terima demi mencapai pilihan yang terbaik. Jangan lebih mementingkan diri sendiri! Bagaimana jika pilihan yang kita ambil itu ternyata merugikan orang lain? Tidakkah kita bersalah?

Selain berinteraksi dengan orang lain di sekitar kita, kita juga hidup di Negara yang memiliki aturan-aturan dan norma-norma yang diberlakukan. Tidak bisa semena-mena kita mengajukan hak atau pilihan kita. Ada aturan tersendiri untuk menyalurkan hak atau pilihan kita.

Selain itu, kita juga hidup dengan ruang lingkup Agama yang kita anut. Agama juga memiliki aturan-aturan dan batasan-batasan. Jangan pernah kita melanggar apa yang sudah dilarang oleh Agama kita! Karena pembalasannya di dunia kita dapat, akhirat pun juga dapat bahkan lebih parah lagi.

Intinya adalah, di dalam kondisi dan keadaan apapun, entah dalam keadaan terdesak atau lapang, di sana pasti ada pilihan yang harus kita ambil. Pilihlah yang terbaik menurut kita, pendapat dan pandangan orang-orang di sekitar kita, menurut aturan-aturan, norma-norma dan batasan-batasan yang telah diberlakukan oleh Negara dan Agama sehingga tercetuslah pilihan yang terbaik dari yang terbaik. Itulah makna dari sebuah pilihan.

Allahu A’lam… 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manusia dan Keindahan

Tiada keraguan sedikitpun bahwasanya di dalam naluri tiap manusia menyukai yang namanya keindahan. Sungguh sangatlah aneh jika ada seorang manusia menyalahi atau tidak menyukai keindahan. Keindahan yang begitu menyejukkan mata, menenangkan hati dan menentramkan jiwa sangatlah memanjakan diri. Sungguh sebuah anugrah yang tiada tara jika kita dapat menikmati keindahan yang ada di dunia ini. Bagaimana jika kita tidak dapat menikmatinya? Entah itu karena disebabkan kita tidak bisa melihat atau yang lain? Kita hanya bisa menggigit jari dan mendengar saja apa yang disampaikan kepada kita mengenai keindahan alam sekitar kita. Sekedar menjadi penikmat buta saja. Oleh karenanya, sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kita kenikmatan yang tiada tara sehingga kita dapat menikmati keindahan ciptaan-Nya. Manusia terbagi ke dalam dua jenis, laki-laki dan perempuan. Laki-laki memiliki ciri dan karakter tersendiri. Begitu pun perempuan. Laki-laki memandang keindahan da...

Di Balik Renunganku (part 1)

Aku heran juga terkejut melihat dunia ini. Begitu mudahnya kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Kalau itu dengan cara yang halal dan tidak melanggar norma-norma yang berlaku, tentu tidak akan menjadi bahan pemikiranku. Tapi, bagaimana jika cara yang digunakan untuk mendapatkannya adalah dengan cara yang haram dan melanggar norma-norma yang berlaku? Tidakkah mereka, orang-orang yang menggunakan cara yang haram dan melanggar peraturan, berpikir dan merenungi apa yang telah mereka perbuat? Bahkan mereka merelakan nyawa orang-orang yang mereka sayangi dan cintai kandas dari dunia ini demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka lebih mementingkan kepuasan diri dengan mengesampingkan orang-orang di sekitarnya. Sekali lagi, aku benar-benar terlarut dalam keheranan dan keterkejutanku. Bagaimana tidak? Apa yang telah mereka lakukan dan perbuat sangat bertentangan dengan hak asasi manusia di mana orang-orang yang telah mereka dzolimi juga memiliki hak yang sama, mendapatkan apa ya...

Mencari Jalan Tengah Antara Lelaki dan Perempuan

Seorang lelaki mengatakan kepada seorang perempuan, “Kamu harusnya ngertiin aku dong! Aku sudah capek begini, kamu masih aja maksa aku nemenin kamu jalan-jalan.” Padahal di sisi lain, si lelaki tidak mengerti si perempuan. Kesannya hanya ingin dimengerti saja. Dan seorang perempuan mengatakan kepada seorang lelaki, “Kamu gimana, sih? Masa aku harus datang ke tempat kamu sekarang? Aku kan lagi sakit. Kamu ngertiin aku kenapa sih?” Padahal di sisi lain, si perempuan tidak mengerti si lelaki. Kesannya adalah sama, ingin dimengerti. Dari kedua ilustrasi di atas, terjadi kurangnya rasa pengertian antara lelaki dan perempuan. Di suatu sisi, si lelaki menginginkan untuk diperhatikan oleh si perempuan. Dan begitu pula perempuan, menginginkan untuk diperhatikan oleh si lelaki. Terjadi ketidakseimbangan keinginan antara mereka yang mana memang tiap individu menginginkan untuk diperhatikan. Hal ini merupakan bentuk daripada sebuah keegoisan. Bagaimanakah seharusnya? Sebagaimana pada judul ...